Rabu, 20 Oktober 2010 | By: winda maharani

Prejudice alias Prasangka

Tulisan ini gue buat gara-gara lagi liat-liat esai lama gue di dalem laptop.. ternyata esai psikologi sosial gue jaman semester 3, ngomongin tentang prasangka.. jadi keinget lagi tentang hal itu.. so let me share it to you..

Apa sih yang kalian pikirkan kalo mendengar kata prasangka?? When u hear a word prejudice?? Pasti banyak dari kita yang akan langsung mengasosiasikan hal tersebut dengan isu kesetaraan gender, racism, agama, dan hal lain semacam itu.. pasti kalian akan langsung merasa tidak nyaman kalo menjadi sasaran dari prasangka yang orang lain berikan.. pemikiran-pemikiran tentang prasangka yang ada dalam benak kita itu bisa dibilang cenderung negatif. Bener gak sih?? Tapi tenang aja, pemikiran itu gak salah kok.. banyak dari orang secara otomatis akan menunjukkan ekspresi tidak suka saat mendengar apa itu prasangka.. Padahal yang namanya prasangka itu gak melulu merupakan hal yang negatif.. Hal senada diungkapkan oleh Nelson (2002), bahwa prasangka tidak selalu negatif dan ada pula yang positif. Namun, memang prasangka yang ada dan dikenal secara luas oleh sebagian besar masyarakat adalah prasangka yang negatif, seperti ketakutan, penghinaan, permusuhan, dan lain sebagainya (Brown, 1995). 

Jadi sebenernya prasangka itu sendiri apaan sih? Kalo Nelson (2002) mendefinisikan prasangka itu..

“sebuah evaluasi yang bias terhadap sebuah grup, berdasarkan karakteristik anggota kelompok yang nyata atau imajinasi”

Prasangka itu sendiri bisa ditujukan kepada individu atau kelompok. Kalo pada individu, prasangka itu muncul dari keanggotaan individu tersebut dalam suatu kelompok. Ketika kelompok tempat individu menjadi sasaran prasangka, otomatis individu di dalamnya terkena juga dong.. Makanya banyak prasangka yang ditujukkan sama diri seseorang hanya karena ia merupakan bagian dari suatu kelompok tertentu. Contohnya aja, saya adalah anak UI. Masyarakat sekitar memiliki pendapat mengenai UI, bahwa yang kuliah disana pasti pinter. Jadilah saya yang merupakan anak UI juga dianggap pintar. Padahal kan belum tentu, saya bisa aja cuma beruntung masuk kesini. (ini sekalian contoh prasangka yang tidak negatif yaaa..). See? Saya jadi terkena prasangka orang lain kan, hanya karena keanggotaan saya dalam suatu kelompok..

Kalo prasangka terhadap kelompok yah mirip-mirip sih. Hanya aja, pembentukannya itu didasari atas karakteristik dari anggotanya. Kalo dicontohnya menggunakan contoh diatas ya jadi gini.. kenapa masyarakat bisa punya pendapat kalo anak UI itu pinter-pinter? Karena mungkin aja, banyak dari mereka yang menemukan bahwa anak UI itu pinter di luar sana, bisa jadi menteri ato apalah. Karakteristik segelintir anggota inilah yang membentuk opini umum masyarakat mengenai anak UI. Kemudian opini ini digeneralisir kepada seluruh individu yang menyandang jabatan ‘anak UI’. Opini yang digeneralisir inilah yang disebut prasangka..

Prasangka seperti halnya sikap kita yang lain, dapat mempengaruhi penilaian dan cara kita dalam memproses informasi sosial (Baron&Bryne, 2003). Saat kita memiliki prasangka pada seseorang atau sebuah kelompok, kita akan cenderung berpikir untuk membenarkan prasangka kita atau mencari sisi negatif lain, yang bisa kita temukan pada anggota kelompok tersebut untuk kemudian kita generalisasi lagi sebagai identitas kelompok. Trus jadi muncul pertanyaan, sebenernya prasangka itu ditujuin pada seseorang secara khusus ato gimana sih?

Brown (1995) mengatakan bahwa ia melihat prasangka sebagai sebuah fenomena yang muncul dalam proses-proses kelompok dan ada tiga hal penting yang mendasari pemikirannya. Pertama, prasangka merupakan orientasi ke arah seluruh kategori orang-orang dan bukan ke arah individu orang per orang. Walaupun targetnya merupakan individu tunggal, karakteristik individu tersebut menjadi kurang penting bila dibandingkan dengan cap yang dikenakan padanya, karena ia bagian dari suatu kelompok tertentu. Kedua, karena prasangka dapat berupa orientasi yang secara sosial sama. Artinya adalah sejumlah orang secara umum menyepakati stereotipe negatif pada suatu kelompok tertentu. Sedangkan alasan ketiga yang menyatakan bahwa prasangka merupakan suatu proses kelompok, karena prasangka biasanya diarahkan pada kelompok tertentu oleh kelompok lain.

Kalo berdasarkan teori konflik realistik (realistic conflict theory), prasangka itu berasal dari kompetisi antar-kelompok sosial, untuk memperoleh sesuatu yang berharga (Baron&Bryne, 2003). Sehingga, ketika kompetisi itu terus berlangsung, anggota yang terlibat di dalam kelompok tersebut akan mulai memandang satu sama lain dalam pandangan negatif yang terus meningkat. Mereka akan memandang kelompok mereka memiliki kelebihan dibandingkan kelompok lain. Jadi intinya adalah prasangka merupakan suatu sikap yang dimiliki individu karena ia tergabung di dalam suatu kelompok. Prasangka biasanya diarahkan pada suatu kelompok tertentu oleh kelompok lain.
 
So, insight-nya adalah kalo yang namanya prasangka itu ga semua buruk kok.. ada juga yang sifatnya positif.. namun ya namanya juga prasangka, entahlah itu dibangun atas dasar yang nyata ato imajinasi aja.. dan kalo seseorang kena prasangka, itu pasti karena keanggotaannya dalam suatu kelompok.. so, jangan menilai orang berdasarkan prsangka.. kan belom tentu tu orang punya karakteristik yang sama dengan kelompoknya.. just don’t judge a book by it’s cover! Hahahha.. semoga bermanfaat


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

0 comments: