Senin, 24 September 2012 | By: winda maharani

Rumah dan Pasangan


Aku adalah sebuah rumah.
Aku akan selalu ada kapanpun kau membutuhkanku.
Aku akan disini, terus menunggumu.
Tapi bila kau terlalu lama membiarkanku tak terawat dan kosong tak berpenghuni,
Aku pun dapat menjadi rusak dan hancur
Kurasa akan butuh waktu lama untuk memperbaikinya kembali


Dalam sebuah hubungan, terutama yang berlandaskan cinta, terkadang ada satu pihak yang menganggap dirinya adalah sebuah rumah. Rumah sebagai tempat pasangannya pulang dan kembali me-recharge diri mereka. Rumah yang diam dan menanti tapi di sisi lain keberadaannya menenangkan.

Gue rasa setiap orang butuh sebuah tempat bersandar terutama dalam suatu hubungan. Tentu akan lebih menyenangkan di kala hati sedih dan gelisah, ada satu orang yang bisa dijadikan sandaran untuk berkeluh kesah. Maka munculnya analogi rumah ini.

Tapi di sisi lain, rumah juga memiliki kebutuhannya. Kebutuhan untuk dihuni, dirawat dan dicintai. Coba bayangkan ketika sebuah rumah yang teduh dan menenangkan tidak pernah dihuni atau dirawat. Keadaannya pasti akan menjadi menyedihkan, kotor, rusak dan tak terawat. Hal yang sama gue rasa juga berlaku pada pasangan yang bertindak sebagai “rumah”. Walaupun kesannya pasif, mereka harus tetap dijaga, dirawat, dikasihi, dan dihiasi dengan kebahagiaan oleh penghuninya.

Saat rumah dibiarkan tak terawat, saat akan ada penghuni baru yang akan menempatinya, tentu penghuni baru itu harus bekerja keras untuk merapikan dan mengembalikannya dalam keadaan semula. Bayangkan bila itu terjadi pada seseorang yang pernah kalian sayangi atau pernah menyayangi kalian sedemikian rupa. Bukankah akan hancur hatinya bila terus menerus merasa di sia-siakan oleh kalian?


*satu pikiran yang tiba2 melintas dalam pikiranku*


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

3 comments: