Jumat, 12 Oktober 2012 | By: winda maharani

Apa nulis sesuatu yang terkesan ‘galau’ sudah pasti galau??

Belakangan ini gue agak-agak merasa kesel sama orang-orang yang dengan mudahnya berkomentar : “aduuh, lo galau banget deh sekarang” atau “lo tambah galau aja sih sekarang”. Komentar-komentar itu datang karena dan hanya karena mereka membaca tweet gue atau membaca post di blog gue. What the heck?!? Kalo gue lagi fine fine aja sih bakalan gue senyumin aja tuh atau gue cuekin. Tapi kalo lagi bad mood, menyemburlah api naga dari mulut gue.. *groaarr*
 
Lalu munculah pertanyaan-pertanyaan ini dalam benak gue. Kenapa setiap tulisan atau tweet yang berbau relationship ataupun dituangkan dengan sedikit puitis, pasti dianggap galau? Entah konten tulisannya yang dianggap galau ataupun state gue saat menulis hal itu dibilang galau. Well, I don’t like it. Really.
 
Apakah kemudian pembahasan gue pada hal-hal mengenai cinta, hubungan antar manusia, dan juga berbagai refleksi diri yang mungkin gue tuangkan dengan sedikit puitis, selalu dihasilkan karena gue berada dalam fase kegalauan? Kalau memang minat gue memang berkisar antara hal-hal tersebut (cinta, relationship, refleksi, psikologi in life), merasa senang dengan hal-hal itu, memang merasakan itu sehari-hari dalam hidup gue dan cukup banyak merefleksikannya, lalu itu kemudian disebut galau?
 
Kemudian pada momen itu, gue akan merasa sakit hati kalo ada yang menjudge gue galau hanya karena hal itu. Yah maksud gue, mungkin lo belom cukup mengenal gue dengan hanya menilai berdasarkan tweet gue atau post di blog gue. Salah satu sahabat gue komentar ketika gue bilang kayak gini, dia bilang “lah kalo gitu si nda udah galau dari jaman 10 taun yang lalu dong.” See? Gue mah emang udah begini dari kapan tau.
 
Gue itu bukannya galau setiap saat. Bagi gue ngetweet atau nulis di blog itu simply karena gue suka dan gue butuh. Banyak banget pemikiran-pemikiran yang berlintas dengan cepat di benak gue ini. Gue khawatir kalo hal ini ga segera ditulis, ga akan pernah gue inget lagi nantinya. So, karena ga setiap saat free untuk nulis itu di laptop, gue kadang cuma nulis itu di twitter atau di notes hape yang nantinya di post di bb.
 
Gue juga ngerasa pemikiran-pemikiran itu kadang dateng karena ‘aha’ moment atau hasil dari pemikiran dan refleksi yang cukup lama. Gue juga menganggap hal-hal yang gue share itu adalah refleksi dari hal-hal yang gue anggap penting, yang gue value dalam hidup gue ini dan gue anggep cukup penting untuk gue share dengan siapapun follower twitter gue atau blog gue.
 
Lalu kenapa kadang bahasanya puitis? Karena gue seneng nulis puisi. Udah banyak ratusan puisi yang gue tulis sejak gue masih SD ampe sekarang, and just a few that have been published in my blog or facebook. Gue sendiri ngerasa ada cukup banyak ‘kontrol’ atau ‘peraturan’ dalam puisi yang mengekang tapi justru membebaskan gue dalam mengungkapkan sesuatu. Ya mengekang karena harus ada aturannya dengan yang disebut puisi itu (walopun punya gue juga ga berani gue sebut sebagai puisi sih). Tapi justru membebaskan karena disitulah gue berkreasi menumpahkan pikiran gue, ide-ide gue namun tetap sesuai dengan aturan-aturan itu. Membebaskan karena ternyata dengan satu kalimat pendek, gue justru lebih bisa menuangkan beribu makna di dalamnya dibandingkan 10 halaman paragraf.
 
Buat gue, writing is one of my best coping for my problem, for every introspection in my mind, for every ache in my heart and for the sake of my happiness. Akhirnya gue hanya akan kembali pada tujuan awal gue ini, menulis untuk kesenangan dan juga ketenangan diri sendiri. So please, don’t ever judge me like that again, ok? ;))

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

0 comments: