Senin, 19 November 2012 | By: winda maharani

Subjektivitas Cinta dan Dinamikanya


 Love and hatred are not merely subjective feelings, affecting the inward universe of those who experience them, but they are also objective forces, altering the world outside ourselves..
-          Kallistos Ware, The Orthodox Way
-           
Salah satu topik yang paling digemari oleh masyarakat adalah pembahasan mengenai cinta dan dinamikanya. Hal ini tampak dari beragamnya bentuk pembahasan topik ini dalam berbagai media, seperti televisi, radio, internet, jejaring sosial, musik, film, hingga pembahasan-pembahasan personal di kala senggang. Hampir semua hal-hal yang bertemakan cinta menjadi tren yang terus berkembang dari jaman dulu hingga sekarang dan tidak pernah terlihat memudar efeknya. Beberapa bentuk dinamika cinta yang sering dibahas antara lain adalah putus cinta, patah hati, cinta bertepuk sebelah tangan, move-on, selingkuh, hubungan jarak jauh dan lainnya. Bila dilihat dari tren yang terjadi di social media, dinamika cinta berupa move-on merupakan salah satu topik hangat yang terus diperbincangkan.

Kemudian munculah pertanyaan, mengapa fenomena move-on ini menjadi suatu tren dan topik yang ramai diperbincangkan? Cukup banyak pendapat-pendapat dan spekulasi yang berusaha menjelaskan hal tersebut, salah satunya adalah emosi sedih atau kesedihan sebagai suatu term afeksi yang dianggap terkait erat dengan fenomena ini. Pada dasarnya, individu lebih mudah untuk mengidentifikasikan diri pada situasi-situasi yang diliputi kesedihan dan rasa sakit dibandingkan dengan situasi-situasi yang menyenangkan dan bahagia. Sehingga ketika terpapar dengan konten media, terutama jejaring sosial yang berisi hal-hal tersebut, masyarakat akan lebih tertarik dan menanggapi isu tersebut. Bila hal ini terjadi dalam skala yang besar dengan intensitas paparan yang tinggi, tentunya semakin hari topik ini akan semakin mencuat ke permukaan.

Individu di dalam masyarakat kemudian terus menerus bertanya dan mencari informasi terkait dengan fenomena move-on ini, baik dari definisinya, bentuknya, faktor-faktor yang mempengaruhinya dan apa akibatnya bagi individu itu sendiri. Lalu munculah berbagai jenis penjelasan yang bersifat awam atau subyektif, yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam masyarakat tersebut. Individu berusaha membentuk prinsip-prinsip umum yang diharapkan dapat menjelaskan lebih jauh berbagai situasi yang terkait dengan fenomena move-on. Prinsip-prinsip tersebut biasanya dibangun berdasarkan pengalaman-pengalaman subyektif dari beberapa individu, pengamatan terhadap lingkungan sosial, dan juga nalar logis.

Pertanyaan yang sama juga berusaha dijelaskan dalam ranah sains untuk menghasilkan prinsip-prinsip atau temuan bersifat objektif dan dapat digeneralisasikan dalam masyarakat. Dalam sisi sains, pembahasan mengenai fenomena move-on dikaitkan dengan emotional recovery setelah mengalami putus atau perpisahan dalam hubungan romantis. Penelitian-penelitian ini menemukan bahwa perpisahan dalam hubungan romantis, akan berdampak pada rasa kehilangan social support (Locker, McIntosh, Hackney, Wilson & Wiegand, 2010), self-concept (Locker, McIntosh, Hackney, Wilson & Wiegand, 2010), munculnya distress (Locker, McIntosh, Hackney, Wilson & Wiegand, 2010), terganggunya tidur (Field, 2011) dan lainnya. Fenomena ini juga berusaha diteliti lebih lanjut untuk menemukan faktor-faktor yang turut berpengaruh dalam emotional recovery individu, baik faktor situasional maupun personal. Faktor situasional yang dianggap mempengaruhi emotional recovery antara lain adalah initiator status (pihak yang mengajukan perpisahan), social support, kontak dengan mantan setelah berpisah, jumlah hubungan romantis yang pernah dimiliki, seberapa lama hubungan berlangsung, seberapa sering kontak dengan pasangan selama masih dalam hubungan romantis, seberapa besar cinta, dan seberapa cepat memiliki hubungan romantis dengan orang lain (Locker, McIntosh, Hackney, Wilson & Wiegand, 2010). Faktor personal seperti persepsi, gender dan kepribadian juga dianggap berpengaruh terhadap emotional recovery individu (Tashiro & Frazier, 2003).

Walaupun cukup banyak faktor-faktor personal dan situasional yang berhasil diidentifikasi dan dianggap memiliki hubungan kausalitas dengan emotional recovery atau fenomena move-on, interaksi antar berbagai faktor memberikan keberagaman situasi yang unik. Misalnya saja pada faktor gender dan faktor seberapa lama hubungan berlangsung, ditemukan bahwa semakin lama hubungan romantis berlangsung maka akan semakin rendah emotional recovery pada wanita (Locker, McIntosh, Hackney, Wilson & Wiegand, 2010). Sedangkan pada pria, interaksi antar kedua faktor tersebut tidak berdampak apapun. Contoh lainnya adalah perbedaan hasil interaksi pada faktor gender dan faktor seberapa sering kontak dengan pasangan selama masih dalam hubungan romantis. Pada wanita, semakin sering melakukan kontak dengan pasangan selama masih dalam hubungan romantis, akan menyebabkan tingginya emotional recovery. Sedangkan pada pria, semakin sering melakukan kontak dengan pasangan selama masih dalam hubungan romantis, akan menyebabkan rendahnya emotional recovery (Locker, McIntosh, Hackney, Wilson & Wiegand, 2010).

Keberagaman situasi yang tercipta karena adanya interaksi antara faktor-faktor yang dianggap mempengaruhi, kemudian memicu pertanyaan lain. Apakah benar dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor tersebut diatas memang menjadi prediktor kemunculan fenomena move-on, walaupun tidak secara pasti dapat memunculkan fenomena move-on yang ada? Apakah dengan didukung oleh bukti-bukti statistik pada sampel dapat membuat hasil tersebut menjadi suatu prinsip-prinsip umum yang dapat digeneralisasikan dibandingkan pembahasan secara subyektif (awam)? Bila dilihat dari hasil penelitian ilmiah di atas, faktor-faktor prediktor tersebut bukanlah sebuah pengetahuan baru yang tidak bisa didapat dari pembahasan non-ilmiah. Asumsi bahwa faktor tersebut merupakan prediktor fenomena move-on juga bisa didapatkan dari nalar atau logika saja tanpa perlu melakukan penelitian ilmiah. Lalu kemudian, apakah hasil atau teori-teori yang didapatkan oleh sains lebih bisa menjelaskan fenomena ini ataupun lebih berguna dibandingkan penjelasan yang didapatkan oleh nalar/logika? Apa bedanya dengan penjelasan yang hanya menggunakan nalar dan pengamatan subyektif saja?

Mungkin hal itulah yang menjadi salah satu penghambat mengapa penelitian mengenai cinta dan dinamikanya, terutama emotional recovery setelah perpisahan hubungan romantis, tidak terlalu banyak dilakukan. Walaupun sudah ada beberapa teori yang mencoba menjelaskan mengenai cinta dan dinamikanya seara umum, termasuk di dalamnya term move-on (emotional recovery), tetapi faktor konteks, subjektivitas yang begitu kuat ataupun penjelasan yang ‘berguna’ itulah yang kemudian masih sulit untuk ditarik ke dalam ranah konseptual. Besarnya pengaruh konteks terhadap teori dapat mengaburkan batas antara hasil-hasil yang diperoleh oleh sains dan juga non-sains, sehingga sulit pula untuk dibuktikan salah karena subjektivitasnnya tersebut.

Referensi :
Field, Tiffany. (2011). Romantic breakups, heartbreak and bereavement : Romantic breakups. Psychology 2011. Vol.2, No.4, 382-387

Locker, Lawrence Jr., McIntosh, Willian D., Hackney, Amy A., Wilson, Janie H., & Wiegand, Katherine E. (2010). The breakup of romantic relationships : Situational predictors of perception of recovery. North American Journal of Psychology, 2010, Vol. 12, No. 3, 565-578.

Tashiro, Ty., & Frazier, Patricia. (2003). ‘‘I’ll never be in a relationship like that again’’: Personal growth following romantic relationship breakups. Personal Relationships, 10 (2003), 113-128

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

0 comments: