Minggu, 02 Desember 2012 | By: winda maharani

Expressing your values


Gue banyak berpikir 1 tahun belakangan ini tentang nilai dan sikap serta posisi dan pendapat orang lain tentang suatu hal. Gue menilai diri gue adalah orang yang cukup keras dan cenderung tidak bisa menerima pendapat orang lain kalo pendapat mereka berbeda dengan gue. Hanya saja gue bukanlah tipe yang mengekspresikannya secara langsung dan gamblang di depan orang itu, melainkan gue tipe yang cenderung diam tapi ga mau mendengarkan. Yah mungkin gue akan mencurahkan perasaan gue seperti lewat blog misalnya atau status di socmed.

Tapi belakangan ini gue cukup banyak berpikir tentang hal ini dan cukup terganggu karenanya. Irritated? Maybe. Dulu gue merasa hal ini bukan menjadi sebuah gangguan karena orang-orang di sekitar gue cenderung tidak gamblang pula dalam mengambil posisi pada suatu hal. Kami cenderung mengambil jalan yang aman-aman saja dan mulus-mulus saja. Jika itu berarti harus menggigit bibir dan menyayat hati, so be it. Gue yang dulu akan cenderung ‘iya iya’ aja sama pendapat orang lain hanya agar tidak ada keributan.

Di umur gue yang sekarang, keinginan untuk mengekspresikan ketidaksukaan atau simply just say ‘no’ untuk hal-hal yang ga gue sukai, terasa semakin besar. Gue seakan berpikir, gue ga mau lagi hidup terkungkung perasaan bahwa lingkungan sosial menghendaki gue untuk bersikap seperti ini, maka seperti inilah gue. Ga seekstrem hal-hal macem melakukan seks bebas atau semacam itu. Hanya sebatas pengutaraan pandangan atau pikiran gue yang ternyata banyak pertentangan dengan ‘how it supposed to be handled in society’. Gue hanya mau keluar dari penjara ‘supposed to be’ itu.

I find it both hard and easy to do that. Mudah karena orang-orang di sekeliling gue yang juga beranjak dewasa kayak gue, semakin ‘outspoken’ tentang value-value dan pandangan mereka. Gue jadi semakin terdorong untuk melakukan hal yang sama, walaupun posisi yang gue ambil masih menjadi pertentangan dgn ‘supposed to be’ tadi. Menjadi sulit juga karena masih ada bagian dalam diri gue yang gue akui cukup kuat untuk menarik gue dan mengajak gue berpikir, ‘lo yakin mau ngutarain pendapat itu ke mereka? Itu beda lho sama desirable view in society’. Menjadi sulit juga karena ada dorongan lain dalam diri gue yang berteriak untuk terbebas dari posisi yang emang ga sesuai sama gue dan ga gue sukai.

Simply stated, ini menjadi sulit dan mudah karena peperangan antara yang gue inginkan (mengambil posisi yang benar-benar gue sukai dan tepat buat gue, juga menjauhi hal-hal yang gue ga sukai) dan yang gue tau lingkungan sekitar harapkan dari gue (harusnya bagaimana bersikap dan berpendapat dalam hal ini). Lalu kemudian, gue merasa gue memenangkan hal yang gue inginkan selama 5 bulan  terakhir ini. Dan apa hasilnya? I just feel lonely. Tapi di lain pihak, gue seneng karena ga harus berpura-pura suka terhadap pendapat satu orang dan mengiyakannya. Gue cukup bersikap bahwa gue acknowledge pandangan dia itu dan menghargai pandangannya tanpa harus menjatuhkannya ataupun memaksanya mengerti tentang pendapat gue.

Lalu gue kemudian berpikir lagi, kalo mungkin ini proses menuju kedewasaan. Dan benar apa yang orang-orang bilang bahwa proses menuju kedewasaan itu menyakitkan. Lo harus belajar memilih dan hidup dengan konsekuensi dari pilihan lo. Yes it’s hard, but I know I won’t give up. 

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

0 comments: