Sabtu, 22 Desember 2012 | By: winda maharani

Terkungkung dalam dunia yang katanya luas ini


Entah kenapa gara-gara urusan dunia maya yang katanya memperluas jangkauan seseorang, di sisi lain justru membatasi ruang gerak orang tersebut. Hal yang sama terjadi dalam diri gue. Dunia maya membatasi ruang private gue.

Gue adalah salah satu orang yang suka menyampaikan isi pikiran ataupun pendapat dalam bentuk tulisan. Tidak akan banyak berkata-kata dalam interaksi sehari-hari, tapi banyak berpendapat dalam dunia tulisan. Gue menganggap dunia tulisan itu salah satu bentuk defense mechanism gue, sublimasi. Gue menumpahkan hal-hal yang membuat gue kecewa, marah, kesel, sedih dan bahagia dalam bentuk tulisan. Salahnya mungkin adalah gue seneng mencantumkannya dalam blog pribadi gue ataupun jejaring sosial. Salah satu fatal error dalam langkah gue.

Dulu saat waktu gue ga punya begitu banyak waktu dan gue hanya bisa menyampaikannya lewat salah satu jejaring sosial, kemudian orang berkomentar. Ya galaulah, ya labil-lah, ya ababil lah, macem-macem. Bahkan mereka yang hidup dan bergelar sarjana dari fakultas yang katanya memanusiakan manusia ini. Lalu kemudian gue berpikir, apa salah menuangkannya dalam bentuk status jejaring sosial? Mungkin menganggu pemandangan mereka kali ya. Tapi di sisi lain gue juga berpikir egois, kalo emang ganggu kan tinggal apus, block atau unfollow aja kan? Lalu kemudian sisi rasional gue bermain. Oke mari mengalah dan mencurahkan hal-hal terdalam ini di tempat yang lebih private lagi. Maknya gue sekarang main deh di blog pribadi.

Lalu apa? Ternyata masih ada juga yang membatasi. Gue mengerti bahwa gue meminta kebebasan berpendapat dan menuangkan uneg-uneg. Gue juga ngerti bahwa orang lain butuh dan punya hak juga berpendapat dan menyampaikan opini mereka ke gue. Lalu kenapa kita ga bisa menemukan titik temu? Suatu poin dimana gue tidak merasakan ancaman atas hak gue tanpa harus menutup kebebasan lo dalam menuntut hak juga?

Gue tau kalo mau private, jangan masukin ke blog. Tulis aja diary biar aman. Tapi bukankah itu juga bentuk kebebasan gue? Gue hanya merasa defensif dengan serangan ‘lo kenapa? Mau cerita ga?’. Gue tau maksudnya baik, tapi terkadang pendekatan seperti itu juga terlalu frontal yang bisa membuat seseorang defensif. Seseorang semacam gue. Orang yang kesusahan atau kesulitan pasti akan mencari bantuan, itu yang gue percaya.

Ga ada yang aman lagi buat berpendapat. Dan gue ga mau hal itu malahan menutup opsi gue dan kebebasan gue nulis status dan nulis blog. I am me and I don’t care about you. Lets do our own business. I do mine and you do yours, without bothering each others.

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

0 comments: