“I’m done labelling people as my
bestfriends. It’s a rare thing that doesn’t happened everyday to everyone. You
invest many things in that relationship, not only based on proximity. At least,
not in my world.”
Beberapa waktu yang lalu gue
ngobrolin hal ini dengan salah seorang teman gue tentang topik ini, and somehow
temen gue cukup setuju dengan gue. Temen gue menganggap bahwa ‘best friends’
itu ga ada, paling ngga hal itu not exist in her world. Gue mungkin ga akan
sepesimis itu dalam menanggapi hal ini. Tapi gue cukup merasa bahwa dalam 23
tahun hidup gue ini, hanya ada 2 orang yang bisa gue sebut sahabat sampe saat
ini. Dan mereka adalah sahabat gue ketika gue SMP.
Semasa SMA, gue ga punya orang
yang bisa gue anggap sahabat. Gue berteman ya berteman aja. Bisa dibilang
peerless. Gue deket dengan siapapun yang saat itu duduk sebangku ama gue,
sekelas ama gue, satu ekskul ama gue, atau siapapunlah temen-temen gue ketika
SMA. Tapi sahabat? Gue ga berani memberi label itu pada satu pun orang di masa
itu. But I’m ok with that kind of life. Ga ada setitik pun rasa lonely atau
sedih atas pilihan peerless itu. Saat SMA, gue rasa itu pilihan yang cukup
cocok.
Ketika kuliah beda lagi.
Kehidupan perkuliahan di kampus tercinta ini terutama di fakultas yang katanya
memanusiakan manusia ini, nuansa peer itu sangat kental. Mungkin didukung juga
karena mayoritas penduduknya adalah cewek yang notabene senang berinteraksi
secara sosial dan dalam jumlah yang cukup masif. Selain itu gue rasa karena
banyaknya tugas kelompok, seara tidak sadar elo akan mengelompokkan diri dan
mencari orang-orang yang nyaman buat elo saat nugas ataupun bergaul. Ga dapat
dipungkiri kalo temen kelompok akhirnya kemudian jadi temen main and vice
versa.
Makanya ketika kuliah gue punya
peer yang cukup besar, 12 orang. Biasanya terbagi 2 dalam kelas-kelas yang
dipilih ataupun kelompok-kelompok tugas kuliah. Dan betapa naifnya gue adalah
disini gue masih berani melabeli mereka dengan sebutan ‘sahabat’. Memang ga
mungkin gue akan deket dengan ke 11 orang ini secara bersamaan. Ada beberapa
orang yang gue akui cukup deket sama gue hingga gue berani menceritakan
beberapa hal yang ga gue ceritain ke temen gue yang lain. Gue memutuskan
berbagi tentang kehidupan gue itu karena gue menganggap mereka adalah sahabat
gue.
But then, I just realized that
I’m so naïve. Sebuah bayangan di dalam kepala gue mengenai sahabat seakan
begitu indah bila dibandingkan dengan kenyataannya. Sahabat dalam otak gue
adalah orang yang akan menerima lo apa adanya, apapun keadaan lo dan apapun
keputusan lo. Sahabat adalah orang yang menjaga rahasia lo, menjaga kepercayaan
lo walaupun saat itu lo ga ada bersama mereka. Sahabat adalah orang yang
mengerti siapa diri lo dan menarik hal terbaik dalam diri lo keluar ke
permukaan. Sahabat adalah orang yang bisa dengan betah lo ajak ngobrol
berjam-jam lamanya tanpa adanya rasa bosan. Sahabat adalah orang yang tidak
dengan mudah menjudge tindakan lo tanpa terlebih dulu mengetahui sisi cerita
lo. Sahabat adalah orang yang ketika lo down, dia adalah orang yang selalu
bersedia menangkap lo. Terlalu indah ya bayangan sahabat dalam benak gue?
Terlalu tidak nyata kah? Gue rasa ngga. Paling ga, lo pasti pengen kan punya
orang yang sayang sama elo tanpa terikat kondisi kayak gitu?
Yeah, lets just say I just
realized it now. Gue jatuh dalam kondisi dimana gue udah ga bisa berlari, dan bagian
dalam hati gue yang terdalam tau dengan jelas bahwa gue ga bisa berlari ke arah
mereka. Jahat mungkin gue menilai kayak gini. Gue juga mungkin ga berusaha
mengkomunikasikan ini pada mereka. Gue seakan tidak mau berusaha mengejar atau
menarik mereka agar mengerti. Egois? Mungkin. Tapi kemudian gue belajar banyak
dari hal ini, bahwa janganlah terlalu naif melabeli seseorang yang mungkin
tidak menganggap lo penting sebagai salah seorang significant others lo. Jangan
semudah itu melabeli seseorang sebagai sahabat lo, hanya karena lo menghabiskan
banyak waktu dengan mereka dan mengenal mereka sejak lama. Ga semua hubungan
yang cocok dan menyenangkan itu harus dilabeli dengan persahabatan. I’m just
done being naïve. I’ll be more careful in the future about this labelling
things.
Akan ada orang yang tidak
memperdulikan label ‘persahabatan’ atau mungkin tidak perlu memberi label
tersebut pada orang-orang di sekelilingnya selama hal itu mutual. Tapi buat
gue, ini adalah salah satu hal yang cukup penting. Tidak semua orang hidup
dengan value yang lo anut. Lo harus bisa menerima keadaan orang lain yang
mungkin mengambil posisi berbeda dengan diri lo. Saling menghargailah. Tapi
bagi gue, label ini kemudian jd penting dan menjadi sesuatu yang berharga.
Sesuatu yang gue pegang dengan kuat ketika gue terjatuh dalam lubang kehidupan.
“Friendship doesn’t need everyday
togetherness. It doesn’t need daily conversation. Even time and space doesn’t
matter. As long as this feeling lives in heart, real friends will never go
apart”
Free Template Blogger
collection template
Hot Deals
BERITA_wongANteng
SEO