Tampilkan postingan dengan label piece of thought. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label piece of thought. Tampilkan semua postingan
Selasa, 28 Oktober 2014 | By: Unknown

Lagu dan Mesin Waktu

Ide post ini dimulai dari malem itu ketika gue nyupir pulang dari depok menuju rumah dan ditemani untaian lagu-lagu merdu dari radio. semakin malam, lagu-lagu yang diputar pun semakin syahdu dan membangkitkan kenangan. kok bisa sampai membangkitkan kenangan? yep, karena stasiun radio yang gue dengerin memutar playlist lagu-lagu lama dari jaman gue kecil hingga kuliah.. lagu-lagu yang penuh kenangan. Dan seketika, kenangan tentang mantan pun berseliweran.. yak bagoos sekali sodara-sodara..

but then gue mikir, kenapa ya hanya dengan mendengarkan lagu-lagu tertentu aja, bisa terbangkitkan tuh segala memori? (dalam hal gue khususnya tentang si mantan ini) Ga hanya sekedar kenangan yang kemudian berseliweran di dalam pikiran, tapi juga perasaan-perasaan dan emosi-emosi yang turut melekat pada kenangan itu. Kalo dalam kasus gue malem itu, gue keingetan perasaan senang dan deg-degan jaman PDKT, perasaan rindu dan sayang ketika ditelpon malam-malam, and many kind of emotions beside that.. and why is that happened??

Lagu atau musik secara umumnya memang merupakan salah satu stimulus yang cukup kuat untuk membangkitkan kenangan dan emosi. cukup banyak penelitian psikologi di bidang ini yang meneliti hubungan antara musik dan emosi atau juga memori. (Kalo mau tau yang mana penelitiannya, mohon gugling aja sendiri). 

Kalo based on yang gue inget dan gue sempet baca (CMIIW ya guys), musik sendiri termasuk dalam stimulus emosi yang dikirimkan ke otak. (ada berbagai macam tipe stimulus yang dikirimkan ke otak. monggo digugle sendiri apa aja). Selain itu, musik sendiri termasuk dalam stimulus yang multimodal. apa tuh artinya? yaitu stimulus yang terdiri dari berbagai stimulus lainnya. misalnya aja nada dalam musik masuk dalam stimulus pendengaran, kemudian liriknya masuk ke dalam stimulus kata-kata, dan bagian-bagian musik lainnya pun masuk ke dalam jenis stimulus yang berbeda. Setiap stimulus yang spesifik, akan masuk ke area otak yang berbeda pula untuk kemudian diproses di dalam otak kita. Nah, bayangin aja kalo gitu, dalam satu lagu yang sama ada berapa banyak bagian otak yang disasar?? so pasti, lagu atau musik kemudian jadi pemicu yang cukup kuat dari memori seseorang.

lalu kenapa musik juga membangkitkan emosi? jujurnya gue ga tau sih secara scientific nya gimana, tp kalo menurut logika bodoh gue yang sejujurnya jangan juga lo percaya (hahaha), ketika lo mendengarkan sebuah lagu, lo biasanya sambil melakukan suatu kegiatan. Sebuah aktivitas yang mengandung emosi kuat (misal lagi berantem sama pacar, happy abis ngedate sama pacar, rindu karena LDR-an, sedih abis putus dari pacar, dsb) akan lebih mudah diasosiasikan pada suatu hal, dalam hal ini mungkin lagu yang ga sengaja lo denger kala itu. 

Dalam hal gue misalnya ya, ketika gue denger lagu adele-set fire to the rain, gue akan ingat masa-masa dimana gue sadar kalo pacar gue selingkuh dan gue benci banget karenanya.. asosiasi yang terbentuk dalam otak gue adalah : "set fire to the rain - benci setengah mati ama ni mahluk bernama *piip* alias emosi negatif".. Dats why ketika akhirnya di suatu saat gue denger tuh lagu, langsung deh secara otomatis badan gue mengingat segala sensasi yang ditimbulkan oleh lagu laknat tersebut (nah kan ampe kebawa pas nulis artikel). mulai dari emosi kesel, jantung berdebar-debar sampe agitasi badan kayak mau mukul orang haha. mungkin hal yg serupa juga pernah terjadi sama orang lain? bisa jadii :))

so then, jangan remehkan the power of a song. itu bisa ngebawa lo kembali ke dalam masa lalu dengan kenangan yang kemungkinan besar melekat erat dan detail dalam benak lo, sampe ke emosi-emosi yang juga menyertainya masa itu. hal ini juga mungkin yg kemudian mendasari kenapa stasiun radio yang muter lagu-lagu jadul itu cukup digemari. Bukan karena lagunya enak, tapi karena melalui lagu itu, seseorang seakan-akan kembali ke masa lalu..

happy listening then, folks! :))

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
Jumat, 07 Juni 2013 | By: Unknown

Nicholas Sparks moment

yap, one of my favorite author.. call me deadly romantic, yeah i am.. proudly to say it, hahaha..

dia ini salah satu pengarang buku yang gue suka. sisi romantisnya dapet, sisi tragedinya dapet dan sisi humanity nya juga dapet.. i like all of his books, walaupun emang gue belom baca semua bukunya sih..

buku Nicholas Sparks yang pertama gue baca itu hasil dari pinjeman salah seorang temen gue. saat itu gue lagi bosen baca komik, dan lumayan bosen baca Sandra Brown (another fav author of mine) dan gue minta novel lain yang bisa gue baca dan kira2 suka karenanya. and my friend lent me this book, then i completely love it while crying when i read it.. :'(

buku pertama yang gue baca itu yg judulnya 'message in a bottle', dan gue beneran nangis pas baca novel ini. yah emang gue lumayan sering nangis sih pas baca novel ato komik yang sedih. panggil gue cengeng, but its true. cerita di buku ini (*gue ga akan ceritain isinya btw, haha) beneran sedih dan gue kayak ngerasain sedihnya kehilangan seseorang itu seperti apa. reaksi pertama gue? i hate this kind of book!! gue seneng cerita yang happy ending dan gue benci karena buku ini ujungnya adalah sad ending (*oopss spoiler).. trus gue bilang ke temen gue, plis jangan pinjemin gue bukunya si pengarang ini lagi, sad ending soalnyaaa.. hahahha

lalu kemudian gue tau kalo ni pengarang adalah orang yang sama yang ngarang "the notebook". gue ga tau sama sekali tentang ini buku ato filmnya yang sebenernya udah diputer berulang kali di TV sih ya. orang-orang bilang ceritanya bagus banget si film ini, but gue tetep memutuskan ga nonton. sampe akhirnya gue dipinjemin lagi novel 'the notebook' ini sama salah seorang temen gue yang lain, in english version. and you know what, i'm crying a lot. like a lot, truly. sedih abis ceritanyaaaaaa *hiks* lalu barulah gue nonton filmnya.. 

trus gue mulai deh nonton film-film lain yang based on bukunya si Nicholas Sparks juga. ga semuanya udah pernah gue baca novelnya, sometimes gue cuma nonton filmnya aja sih.. gue nonton 'night in rodanthe' and cry like a baby in movie theater. yeah, really.. lalu gue nonton 'a walk to remember', ada juga 'dear john', trus ada 'the last song' sama yang terakhir gue tonton adalah 'safe haven'. dan gue jatuh cinta semakin dalam sama ni pengarang. pada akhirnya gue beli ato ngga nyari ebook dari semua film yang gue tonton itu.

ada satu hal yang jadi benang merah semua film dan buku yang gue baca, yaitu surat. yeah, a letter and i remember i always crying when the character on that books read it.. suratnya selalu indah isinya, kata-katanya bagus, maknanya bagus dan selalu jadi titik balik dari semua cerita yang sebelumnya udah dipaparkan. agak ketebak sih kalo isi suratnya akan membawa semua pesan itu, but i always love it..

kemudian gue jadi mikir, orang-orang jaman sekarang udah jarang banget nulis surat dalam bentuk yah well, surat. with pen and paper. orang-orang jaman sekarang lebih suka nulis semuanya digital (*kayak blog ini contohnya) dan lebih suka menulis dalam isi yang pendek2. padahal surat menurut gue, sangat sangat powerful. lo mau ga mau akan berpikir, apa ya yang orang itu pikirin saat nulis surat ini.. yah, kalo gue sih mikir itu. so yeah, for me a letter is so powerful in its own way.. 

lets write a letter now. one letter for one person you loved :)


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
Sabtu, 02 Maret 2013 | By: Unknown

I am ready to move on..

Mungkin jalan yang gue pilih ini akan jadi jalan panjang yang sepi dan penuh cobaan
tapi gue rasa, gue perlu menyelesaikan semua rasa yang ada di dada ini
hingga tak akan pernah ada lagi masa dimana gue ngerasa sejatuh ini..
ga perlu lagi ada masa dimana gue serapuh ini karena orang lain
ga perlu lagi ada masa dimana hidup gue berantakan karena orang lain..

the only time when i will shed my tears, only when people who really love me and always there for me, be gone someday.. not because this kind of things..

mereka melihat gue sebagai beban dan bukan sebagai rekan
lalu kemudian gue masih harus tersenyum manis di depan muka mereka selagi hati gue berteriak hal yang berbeda?
gue ngga munafik..
i always tell the world what i really feel inside.. if the whole world cant accept me for the who i am, it's ok..
i know that i always have a home.. filled with love, warmth , supports and family..

it's ok.. i am ready to move on.. and never look back..



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
Kamis, 28 Februari 2013 | By: Unknown

Significant others

Apa sih yang sebenernya dimaksud sebagai significant others? kenapa gue jadi mengalami disonansi kognitif gini mengenai pemahaman gue tentang significant others?

dalam pengertian gue, itu adalah sebutan bagi orang yg memiliki arti penting dalam hidupnya. orang yang kehadirannya baik fisik ataupun emosional lo rasakan penting bagi hidup lo. lalu, kenapa juga gue jadi meragukan definisi significant others menurut orang lain? apa mereka punya definisi yang sama dengan gue?

kalo dalam definisi gue, significant others bisa banyak tapi bertahan. kalo seseorang jadi significant others lo hari ini, kemungkinan besar dia tetap akan jadi significant others lo tahun depan. (yah walaupun kalo pacar trus putus, susah juga sih ya :p)

but i know, everybody changes. your habit, your attitude, your paradigm, your way of see the life, your friends, even your significant others.. so, it is possible if today someone is your significant others but maybe not tomorrow.. it's just a pity..

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
Rabu, 20 Februari 2013 | By: Unknown

:)

Jadi ternyata yang menganggap itu adalah masalah, bukan cuma gue.. kenapa gue dan dia ga membahas ini ya? mungkin terlalu "tidak enak" satu sama lainnya.. kalo gue sih begitu, ga tau alasan dia ya..

i felt i've become invincible to them and vice versa.. we just grow apart, i think.. further away :))

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
Rabu, 16 Januari 2013 | By: Unknown

Woman as the first teacher


Sebelum gue lanjut pendidikan master, gue sempet ngobrol dengan beberapa cowok tentang cewek yang punya pendidikan tinggi. Gue menanyakan beberapa komentar dari mereka, walopun ini sampel ga representatif yaaa. Kebanyakan dari mereka agak tidak nyaman dengan skenario ‘what if’ yang gue ajukan. Gue nanyain, gimana pendapat mereka tentang cewek yang punya pendidikan tinggi dan bahkan lebih tinggi dibandingkan mereka. Trus gue nanya lagi, kalo cewek itu akan jadi istri mereka, kira-kira tanggapan mereka gimana. Yang pertanyaan-pertanyaan model itulah. Kemudian gue mengambil beberapa kesimpulan dari jawaban-jawaban temen-temen gue ini.

Secara umum mereka tidak berkeberatan bila ada cewek yang punya pendidikan tinggi sampe s2 atau s3. Mereka malah kagum dengan cewek-cewek seperti itu karena punya ambisi dan tekad yang kuat dalam pendidikan. Tapi lain halnya kalo cewek itu adalah istri atau calon istri mereka, ini menjadi sesuatu yang tidak nyaman untuk dialami. Mereka bilang tentunya jiper dong sama istri mereka kalo mereka pendidikannya lebih rendah dibanding istri mereka. Mungkin terkait dengan ego lelaki ya, atau lebih tepat gue bilang sosialisasi gender mereka dalam masyarakat. Gue sama sekali ga menilai pendapat ini salah ya, karena memang sosialisasi peran gender dalam masyarakat Indonesia ya begini. Sosialisasi yang menyatakan bahwa pria lebih superior dibanding wanita, hampir dalam hal apapun. Jadi ketika cewek seakan punya kedudukan yang lebih tinggi, tentunya cowok akan merasa sedikit terintimidasi. Ga semua cowok begini, tapi ada sebagian yang begini.

Dari pendapat itu, jalan tengah yang diambil para pria (berdasarkan omongan temen-temen gue aja ya ini) tentang hal ini adalah ngga papa kalo istri mereka punya pendidikan lebih tinggi dari mereka asal bukan penghasilan yang lebih tinggi. Alasannya? Mungkin kurang lebih sama kayak yang udah dijelasin sebelumnya ya. Ini cowok-cowok modern dengan pendidikan sarjana yang hidup di kota besar ya yang berpendapat begini. So, mungkin sifat dasar lelaki memang seperti itu kalo sudah menyangkut ego dan peran gender.

Gue sebagai kaum wanita sebenernya agak kecewa sih dengan pandangan laki-laki yang begitu. Gue bukannya feminis atau apalah tentang kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Karena dari kodratnya pun gue tau kalo cewek ya memang lebih inferior dari cowok, gue menyadari itu dan agama gue pun mengajarkan hal tersebut. Yang gue sesali adalah sisi lain dari tingkat pendidikan yang lebih tinggi yang dienyam oleh kaum wanita ini. Saudara-saudara gue yang lebih tua pun sebenernya sedikit berkomentar tentang gue yang mau kuliah master. Mereka menanyakan kenapa mau kuliah master, emang nantinya selesai kuliah mau apa, kalo kerja dan karir trus nanti gimana berumah tangga, dan sebagai dan sebagainya.

Gue menyesalkan pemikiran-pemikiran tersebut karena gue merasa komentar tersebut justru tidak memikirkan jangka panjang. Pertanyaan gue adalah, apakah dengan mengenyam pendidikan yang lebih tinggi lalu seorang wanita diharuskan untuk bekerja? Bukankah dengan wanita yang lebih pintar dan cerdas, generasi berikutnya juga akan lebih terdidik? Bukankah seorang wanita yang nantinya menjadi seorang ibu adalah guru pertama dari anak-anaknya? Lalu mau jadi apakah anak-anaknya bila memiliki ibu yang bodoh?

Pemikiran gue cukup simple. Cewek itu harus jadi orang yang terpintar dan tercerdas dalam keluarganya, karena dialah nanti yang akan menjadi seorang ibu sekaligus guru bagi anak-anaknya. Ga bisa dipungkiri juga, kesuksesan lelaki juga dipengaruhi oleh wanita yang ada di belakangnya (gue rasa ada nih kutipan yang artinya kira-kira gini juga). Kalo si wanita itu ternyata bodoh? Tidak beretika? Apa yang akan terjadi pada suami dan anak-anaknya? Jadi wahai mereka-mereka yang masih menganggap mengapa wanita harus punya pendidikan yang tinggi, kalo akhirnya mereka akan di dapur saja. Coba pikirin, kalo anak lo kelak punya hak kan untuk memiliki ibu yang pintar yang bisa membesaran dia dengan baik? Kalo jawaban lo iya, then mulailah memandang pendidikan tinggi pada wanita sebagai aset dan investasi, bukannya pemborosan cuma-cuma.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

Blaming On Them


Pernah ga kalian cerita sama temen atau sahabat baik tentang kisah cinta kalian yang kandas di tengah jalan? Ato ngga menjadi pihak yang mendengarkan cerita tersebut? Tentang mantan yang begini begitu, pacar yang begini begitu, cowok atau cewek yang PHP sama kalian atau apapunlah bentuk cerita cinta. Pernah ga menderngar komentar atau mungkin berkomentar yang kemudian ujungnya menjelekkan si “pacar, si “mantan” atau si si yang lainnya? Misalnya, “emang dia tuh brengsek aja, udah nyakitin lo kayak gini”. Pernah ga? Kalo kalian sebagai orang yang menerima komentar begitu, pikiran kalian apa perasaan kalian gimana?

Kalo gue menerima komentar kayak gitu, respon gue satu. Gue GA SUKA sama sekali. Walaupun mungkin teman yang berkomentar memiliki niat yang baik untuk meringankankan beban hati yang bercerita atau menghibur hati yang sakit, but I still don’t like it. Dan kenapa gue sampe ga suka tentang itu? Gue percaya yang namanya garis yang udah ditakdirkan oleh Allah SWT dalam hidup gue. Gue harus bertemu orang ini, gue harus memiliki hubungan sama orang itu, dan sebagainya. Mereka ada dalam hidup seseorang pasti karena ada alasan tertentu juga. Menurut gue, cara yang tepat untuk menghibur orang yang lagi merasa down karena dikecewakan itu bukan dengan menjelek-jelekan orang yang mengecewakan mereka, tapi mencoba mengerti posisi mereka.

Sebagai orang luar yang ga tau hal yang sesungguhnya dari suatu cerita, gue rasa kita ga punya hak untuk dengan beraninya mengatakan dia jelek, dia brengsek, dia jahat, dia playboy atau apalah. Lo bukan temen lo, yang jelas-jelas tau rasanya berhubungan dengan orang itu. Informasi yang lo terima hanyalah berupa informasi tangan kedua yang jangan lupa, pasti udah dibumbui sana sini dan terwarnai oleh persepsi si pencerita. Menurut gue, orang yang dikecewakan itulah yang paling berhak memanggil orang yang mengecewakan mereka sebagai si brengsek dan teman-temannya, bukan kita si komentator.

Jujur aja gue merasa sedikit marah ketika gue cerita tentang mantan gue yang begini dan begitu, lalu komentar mereka adalah “lo punya mantan brengsek semua ya”. Bukankah dengan berkomentar seperti itu, lo berarti mendiskreditkan gue? Lalu lo menilai gue apa dong kalo mantan-mantan yang gue punya brengsek semua? Orang bodoh?? I just don’t like it. Mereka mungkin emang brengsek, tapi kan mereka juga ada sisi baiknya yang mungkin dengan sengaja tidak terceritakan oleh pencerita. Lo ga bisa serta merta bilang si dia brengsek dan sebagainya tanpa lo bener-bener tau dia itu gimana orangnya.

Yah intinya sih, jangan menggampangkan suatu komentar yang mungkin terdengar sepele. Berhat-hati dalam berkomentar apalagi tentang hubungan seseorang. Jadi kalo temen lo lagi curhat, jangan langsung samber dengan komentar-komentar praktis kayak gitu ya. Dipikirin dulu arti dan akibat omongan lo itu apa ke temen lo. Menjelek-jelekan si ‘mantannya’ mungkin secara ga langsung akan menjelek-jelekan si temen lo juga akhirnya.. so be careful ;)

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
Selasa, 08 Januari 2013 | By: Unknown

Rindu, Jarak dan Waktu


Kau tak akan mengenal rindu bila tidak pernah terpisahkan jarak dan waktu
I read this somewhere. Lalu kemudian pertanyaan gue  muncul, apa bener begini?? Apakah rindu hanya muncul kalo 2 individu terpisahkan jarak dan waktu? Bukankah 2 orang yang tinggal di dalam rumah yang sama setiap hari, berada di satu ruangan dan tidur di tempat tidur yang sama juga dapat mengalami rindu? Padahal mereka tidak terpisahkan oleh jarak dan juga waktu. Rindu itu timbul karena adanya rasa tidak memiliki satu sama lain.

Kalo menurut gue, hal yang menyebabkan rindu itu gak hanya sesimple terpisahkan jarak dan waktu. Di satu sisi hal itu benar, tapi juga kurang tepat di sisi lain. ga hanya jarak dan waktu secara fisik tapi juga secara kognitif dan afektif. Kalo di dalam pikirannya dia merasa jauh dengan orang tersebut, walaupun ia bertemu setiap hari mungkin ia akan tetap merasa rindu. Kalo misalnya suami istri yang menikah tanpa cinta atau mengalami masalah dalam pernikahannya, mungkin mereka akan merindukan satu sama lain walaupun tiap hari bertemu. Merindukan hubungannya mereka yang dulu.

So there’s many aspect to build a feeling called miss. And I won’t even start to list it. Sometimes let your feeling decided that to you. ;)

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

Astrologi dan kebutuhan untuk merasionalisasi


Siapa yang belom pernah baca astrologi? Atu yang biasa dikenal dengan ramalan bintang? Siapa yang percaya dengan hal-hal semacam itu? Apakah hal-hal yang tertera dalam astrologi itu benar? Apakah astrologi itu sebuah ilmu pengetahuan?

Mungkin cukup banyak ya pertanyaan-pertanyaan retoris yang terkait dengan kepercayaan orang terhadap astrologi. Gue adalah salah satu orang yang lumayan percaya dengan astrologi. Gue memfollow beberapa akun twitter tentang astrologi yang juga punya ribuan follower lainnya. Gue cukup sering me-RT tweet tentang astrologi yang terkait dengan bintang gue, yaitu sagitarius. Selama gue punya akun twitter, gue melihat cukup banyak orang atau temen-temen gue se timeline yang tergolong cukup sering me-RT tweet tentang astrologi. Lalu kemudian muncul pertanyaan besarnya, seperti yang juga ditanyakan oleh banyak orang dan sudah coba dijawab oleh bermacam-macam pihak juga. ‘ Kenapa banyak orang yang suka me-RT dan tetap percaya pada astrologi? ‘ I have my own version though..

Salah satu hal yang ga luput dari perhatian gue adalah, banyaknya pelaku abusive RT astrologi ini adalah wanita. Kenapa wanita lebih banyak dibandingkan pria? Bukan berarti pria ga melakukan tindakan RT abusive ini pada tweet astrologi loh ya, hanya saja jumlahnya lebih sedikit dibandingkan wanita. (ini semua purely observasi bebas yang tidak ilmiah ya).

Kalo dalam penjelasan gue, alasan orang melakukan RT terhadap tweet2 astrologi adalah rasionaliasi. Astrologi jelas bukan sebuah cabang ilmu pengetahuan karena astrologi tidak bisa di falsifikasi. Padahal syarat utama sesuatu dikatakan ilmu pengetahuan adalah kemampuannya untuk dapat di falsifikasi atau dibuktikan salah. Astrologi tidak dapat dibuktikan salah, mari kita lihat contohnya.
“ RT @WeSagittarius:  #Sagittarius are idealistic lovers who want you to appreciate their beliefs, visions, and ideals. “
I mean like, who are’nt feel like this? Ga cuma orang dengan bintang sagitarius kan yang pengennya begini? Tapi kenapa masih aja ada orang yang suka bacain astrologi atau me-RT-nya kayak gitu? (well, termasuk gue juga sih, hehe). Kalo dari pemahaman gue terhadap diri gue sendiri, mungkin alasannya ya rasionalisasi.

Hampir dalam setiap kesempatan, individu itu tidak ingin menjadi pihak yang salah atau kalah. Akan selalu saja ada pembenaran dalam setiap hal yang dia lakukan. Selalu ada alasan yang benar untuk setiap action yang dilakukan yang sebagian besar menganggap bahwa dirinyalah yang benar dan orang lain salah. Alasan paling dasar bila suatu tindakannya dianggap tidak tepat dalam masyarakat adalah omongan ‘emang gue orangnya begini dari sananya. Ga bisa lagi diubah”. Disitulah menurut gue kepercayaan terhadap astrologi masuk.

Astrologi memberikan penjelasan-penjelasan yang menggambarkan tipe seseorang berdasarkan bintangnya. Kalo orang-orang menyetujuinya (misal dgn me-RT tweet tersebut), ya dia kembali menegaskan ‘ya gue emang orangnya begini’. Menyampaikan itu di depan publik, seakan-akan meminta orang lain mengerti dirinya yang memiliki sifat seperti yang ditulis di astrologi dan tidak menyalahkan mereka bila melakukan itu karena ‘emang dari sononya udah begitu’. I think that the main reason. Walaupun niat menyampaikan ‘pesan’ lewat publik terhadap seseorang juga bisa sih. Intinya mah pengen orang lain ngertiin sifat mereka yag begitu dan menerima mereka apa adanya dengan seluruh sifat itu karena sebenernya mereka bersikap begitu karena emang dari sononya orang dengan bintang tertentu akan bersikap tertentu. Hehehe, am I right? Well, its just a mere theory not scientific either.

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
Sabtu, 22 Desember 2012 | By: Unknown

Terkungkung dalam dunia yang katanya luas ini


Entah kenapa gara-gara urusan dunia maya yang katanya memperluas jangkauan seseorang, di sisi lain justru membatasi ruang gerak orang tersebut. Hal yang sama terjadi dalam diri gue. Dunia maya membatasi ruang private gue.

Gue adalah salah satu orang yang suka menyampaikan isi pikiran ataupun pendapat dalam bentuk tulisan. Tidak akan banyak berkata-kata dalam interaksi sehari-hari, tapi banyak berpendapat dalam dunia tulisan. Gue menganggap dunia tulisan itu salah satu bentuk defense mechanism gue, sublimasi. Gue menumpahkan hal-hal yang membuat gue kecewa, marah, kesel, sedih dan bahagia dalam bentuk tulisan. Salahnya mungkin adalah gue seneng mencantumkannya dalam blog pribadi gue ataupun jejaring sosial. Salah satu fatal error dalam langkah gue.

Dulu saat waktu gue ga punya begitu banyak waktu dan gue hanya bisa menyampaikannya lewat salah satu jejaring sosial, kemudian orang berkomentar. Ya galaulah, ya labil-lah, ya ababil lah, macem-macem. Bahkan mereka yang hidup dan bergelar sarjana dari fakultas yang katanya memanusiakan manusia ini. Lalu kemudian gue berpikir, apa salah menuangkannya dalam bentuk status jejaring sosial? Mungkin menganggu pemandangan mereka kali ya. Tapi di sisi lain gue juga berpikir egois, kalo emang ganggu kan tinggal apus, block atau unfollow aja kan? Lalu kemudian sisi rasional gue bermain. Oke mari mengalah dan mencurahkan hal-hal terdalam ini di tempat yang lebih private lagi. Maknya gue sekarang main deh di blog pribadi.

Lalu apa? Ternyata masih ada juga yang membatasi. Gue mengerti bahwa gue meminta kebebasan berpendapat dan menuangkan uneg-uneg. Gue juga ngerti bahwa orang lain butuh dan punya hak juga berpendapat dan menyampaikan opini mereka ke gue. Lalu kenapa kita ga bisa menemukan titik temu? Suatu poin dimana gue tidak merasakan ancaman atas hak gue tanpa harus menutup kebebasan lo dalam menuntut hak juga?

Gue tau kalo mau private, jangan masukin ke blog. Tulis aja diary biar aman. Tapi bukankah itu juga bentuk kebebasan gue? Gue hanya merasa defensif dengan serangan ‘lo kenapa? Mau cerita ga?’. Gue tau maksudnya baik, tapi terkadang pendekatan seperti itu juga terlalu frontal yang bisa membuat seseorang defensif. Seseorang semacam gue. Orang yang kesusahan atau kesulitan pasti akan mencari bantuan, itu yang gue percaya.

Ga ada yang aman lagi buat berpendapat. Dan gue ga mau hal itu malahan menutup opsi gue dan kebebasan gue nulis status dan nulis blog. I am me and I don’t care about you. Lets do our own business. I do mine and you do yours, without bothering each others.

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
Kamis, 13 Desember 2012 | By: Unknown

Berhenti Berharap


Apakah untuk melupakanmu aku harus berhenti memikirkanmu?

Apakah kemudian dengan berhenti memikirkanmu, aku akan dapat melupakanmu?

Mereka bilang, berhentilah berharap kau akan kembali ke sisiku

Mereka bilang, hal itu tidak akan pernah terjadi. Tidak sekarang dan tidak juga nanti

Lalu kemudian, aku harus berhenti berharap agar aku tidak terus terluka karena mendambakanmu?

Apakah kau menyuruhku untuk menyudahi saja hidupku saat ini?

Karena berhenti berharap akan hadirnya dirimu, sama saja artinya seperti berhenti bernapas dalam hidupku

Nadi kehidupanku saat ini hanyalah seutas harapan tipis akan kembalinya dirimu

Harapan itu yang membuatku tetap hidup dan mencoba untuk tegak berdiri

Berhenti mengharapkanmu, sama artinya kau memintaku untuk membunuh diriku

*Terinspirasi dari seseorang

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

Quotes


“he who has why, can endure any how” – Nietzsche

Itu adalah salah satu quotes yang gue suka dari Nietzsche. Gue ga tau arti sesungguhnya dari quotes itu, tapi paling ngga gue punya penafsiran atasnya.

Penafsiran bebas gue atas quotes itu adalah seseorang yang punya tujuan jelas dalam hidupnya akan dapat mengatasi segala rintangan yang ditemuinya dalam mencapai tujuannya itu. Atau bisa dikatakan, kalo lo tau alasan lo melakukan sesuatu, kenapa lo memilih hal tersebut, lo akan bisa bertahan dan mengatasi segala cobaan yang menghadang.

I really wish I could. Know the reason why I am here now and doing this. So I can stand strong before the storm that hits me hard. I really wish I could…

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

Done labelling someone as best friends


“I’m done labelling people as my bestfriends. It’s a rare thing that doesn’t happened everyday to everyone. You invest many things in that relationship, not only based on proximity. At least, not in my world.”
Beberapa waktu yang lalu gue ngobrolin hal ini dengan salah seorang teman gue tentang topik ini, and somehow temen gue cukup setuju dengan gue. Temen gue menganggap bahwa ‘best friends’ itu ga ada, paling ngga hal itu not exist in her world. Gue mungkin ga akan sepesimis itu dalam menanggapi hal ini. Tapi gue cukup merasa bahwa dalam 23 tahun hidup gue ini, hanya ada 2 orang yang bisa gue sebut sahabat sampe saat ini. Dan mereka adalah sahabat gue ketika gue SMP.

Semasa SMA, gue ga punya orang yang bisa gue anggap sahabat. Gue berteman ya berteman aja. Bisa dibilang peerless. Gue deket dengan siapapun yang saat itu duduk sebangku ama gue, sekelas ama gue, satu ekskul ama gue, atau siapapunlah temen-temen gue ketika SMA. Tapi sahabat? Gue ga berani memberi label itu pada satu pun orang di masa itu. But I’m ok with that kind of life. Ga ada setitik pun rasa lonely atau sedih atas pilihan peerless itu. Saat SMA, gue rasa itu pilihan yang cukup cocok.

Ketika kuliah beda lagi. Kehidupan perkuliahan di kampus tercinta ini terutama di fakultas yang katanya memanusiakan manusia ini, nuansa peer itu sangat kental. Mungkin didukung juga karena mayoritas penduduknya adalah cewek yang notabene senang berinteraksi secara sosial dan dalam jumlah yang cukup masif. Selain itu gue rasa karena banyaknya tugas kelompok, seara tidak sadar elo akan mengelompokkan diri dan mencari orang-orang yang nyaman buat elo saat nugas ataupun bergaul. Ga dapat dipungkiri kalo temen kelompok akhirnya kemudian jadi temen main and vice versa.

Makanya ketika kuliah gue punya peer yang cukup besar, 12 orang. Biasanya terbagi 2 dalam kelas-kelas yang dipilih ataupun kelompok-kelompok tugas kuliah. Dan betapa naifnya gue adalah disini gue masih berani melabeli mereka dengan sebutan ‘sahabat’. Memang ga mungkin gue akan deket dengan ke 11 orang ini secara bersamaan. Ada beberapa orang yang gue akui cukup deket sama gue hingga gue berani menceritakan beberapa hal yang ga gue ceritain ke temen gue yang lain. Gue memutuskan berbagi tentang kehidupan gue itu karena gue menganggap mereka adalah sahabat gue.

But then, I just realized that I’m so naïve. Sebuah bayangan di dalam kepala gue mengenai sahabat seakan begitu indah bila dibandingkan dengan kenyataannya. Sahabat dalam otak gue adalah orang yang akan menerima lo apa adanya, apapun keadaan lo dan apapun keputusan lo. Sahabat adalah orang yang menjaga rahasia lo, menjaga kepercayaan lo walaupun saat itu lo ga ada bersama mereka. Sahabat adalah orang yang mengerti siapa diri lo dan menarik hal terbaik dalam diri lo keluar ke permukaan. Sahabat adalah orang yang bisa dengan betah lo ajak ngobrol berjam-jam lamanya tanpa adanya rasa bosan. Sahabat adalah orang yang tidak dengan mudah menjudge tindakan lo tanpa terlebih dulu mengetahui sisi cerita lo. Sahabat adalah orang yang ketika lo down, dia adalah orang yang selalu bersedia menangkap lo. Terlalu indah ya bayangan sahabat dalam benak gue? Terlalu tidak nyata kah? Gue rasa ngga. Paling ga, lo pasti pengen kan punya orang yang sayang sama elo tanpa terikat kondisi kayak gitu?

Yeah, lets just say I just realized it now. Gue jatuh dalam kondisi dimana gue udah ga bisa berlari, dan bagian dalam hati gue yang terdalam tau dengan jelas bahwa gue ga bisa berlari ke arah mereka. Jahat mungkin gue menilai kayak gini. Gue juga mungkin ga berusaha mengkomunikasikan ini pada mereka. Gue seakan tidak mau berusaha mengejar atau menarik mereka agar mengerti. Egois? Mungkin. Tapi kemudian gue belajar banyak dari hal ini, bahwa janganlah terlalu naif melabeli seseorang yang mungkin tidak menganggap lo penting sebagai salah seorang significant others lo. Jangan semudah itu melabeli seseorang sebagai sahabat lo, hanya karena lo menghabiskan banyak waktu dengan mereka dan mengenal mereka sejak lama. Ga semua hubungan yang cocok dan menyenangkan itu harus dilabeli dengan persahabatan. I’m just done being naïve. I’ll be more careful in the future about this labelling things.

Akan ada orang yang tidak memperdulikan label ‘persahabatan’ atau mungkin tidak perlu memberi label tersebut pada orang-orang di sekelilingnya selama hal itu mutual. Tapi buat gue, ini adalah salah satu hal yang cukup penting. Tidak semua orang hidup dengan value yang lo anut. Lo harus bisa menerima keadaan orang lain yang mungkin mengambil posisi berbeda dengan diri lo. Saling menghargailah. Tapi bagi gue, label ini kemudian jd penting dan menjadi sesuatu yang berharga. Sesuatu yang gue pegang dengan kuat ketika gue terjatuh dalam lubang kehidupan.

“Friendship doesn’t need everyday togetherness. It doesn’t need daily conversation. Even time and space doesn’t matter. As long as this feeling lives in heart, real friends will never go apart”
 

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
Minggu, 02 Desember 2012 | By: Unknown

Love is not always kind


“love is not always kind”

Gue menemukan kalimat ini dalam salah satu novel (lagi) yang gue baca. I’ve taken aback for a while and I know it’s true. Cinta itu ga selamanya tampil dalam bentuk yang baik dan menyenangkan. Bahwa cinta bisa tampil dalam bentuk yang juga dinilai menakutkan dan menyakitkan bagi orang tersebut.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

Expressing your values


Gue banyak berpikir 1 tahun belakangan ini tentang nilai dan sikap serta posisi dan pendapat orang lain tentang suatu hal. Gue menilai diri gue adalah orang yang cukup keras dan cenderung tidak bisa menerima pendapat orang lain kalo pendapat mereka berbeda dengan gue. Hanya saja gue bukanlah tipe yang mengekspresikannya secara langsung dan gamblang di depan orang itu, melainkan gue tipe yang cenderung diam tapi ga mau mendengarkan. Yah mungkin gue akan mencurahkan perasaan gue seperti lewat blog misalnya atau status di socmed.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
Jumat, 30 November 2012 | By: Unknown

Money can buy happiness?

Pertanyaan ini merupakan salah satu hal yang gue rasa banyak yang pro dan kontra tentang jawabannya. Sebagian orang akan bilang ngga, dan sebagian lagi akan bilang iya. Saat obrolan ini muncul di kelas gue waktu itu, beberapa temen gue bilang ngga dan ada yang bilang iya. Masing-masing memperkuat posisi mereka dengan argumen yang mereka punya.

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

be positive!


“sometimes finding the light means you must pass through the deepest darkness”

“just as the most beautiful rainbows are born from rain, the most beautiful lessons are born from pain”


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
Senin, 19 November 2012 | By: Unknown

Subjektivitas Cinta dan Dinamikanya


 “Love and hatred are not merely subjective feelings, affecting the inward universe of those who experience them, but they are also objective forces, altering the world outside ourselves..”
-          Kallistos Ware, The Orthodox Way
-           
Salah satu topik yang paling digemari oleh masyarakat adalah pembahasan mengenai cinta dan dinamikanya. Hal ini tampak dari beragamnya bentuk pembahasan topik ini dalam berbagai media, seperti televisi, radio, internet, jejaring sosial, musik, film, hingga pembahasan-pembahasan personal di kala senggang. Hampir semua hal-hal yang bertemakan cinta menjadi tren yang terus berkembang dari jaman dulu hingga sekarang dan tidak pernah terlihat memudar efeknya. Beberapa bentuk dinamika cinta yang sering dibahas antara lain adalah putus cinta, patah hati, cinta bertepuk sebelah tangan, move-on, selingkuh, hubungan jarak jauh dan lainnya. Bila dilihat dari tren yang terjadi di social media, dinamika cinta berupa move-on merupakan salah satu topik hangat yang terus diperbincangkan.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

which one?

"should I give up or should I just keep chasing pavement, even if it leads nowhere”
Lirik itu (adele-chasing pavement) gue rasa cukup menggambarkan perasaan dan pemikiran yang terjadi pada gue belakangan ini. Apakah gue harus tetep berjuang dan berharap? Atau gue harus menyerah sekarang juga? Adakah yang pernah tau jawabannya dengan pasti? Well, people said ask your heart and you will find the answer. Is it so simple?


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

tonite's dilemma


Cinta itu sulit dimengerti ya. Sampe umur gue yang segini, gue masih belom ngerti apa itu cinta.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO