Selasa, 24 April 2012 | By: winda maharani

Stress : Know it, then Manage it

Berdasarkan data dari Transport Canada (2009), stress merupakan salah satu faktor yang berkontribusi dalam aviation accident. Stress sendiri merupakan fenomena yang sulit untuk diukur dan dikuantifikasi. Pengetahuan mengenai apa itu stress, bagaimana mengenali stress dalam diri sendiri, bagaimana hal tersebut mempengaruhi performa seseorang dan bagaimana seseorang dapat mengontrol tingkat stress yang dialaminya, dapat membantu menurunkan risiko-risiko kecelakaan dalam penerbangan. 

Stress merupakan suatu konsep yang sulit untuk didefinisikan secara baku. Menurut Miller & Smith (1993), stress merupakan keadaan ketegangan dinamis yang tercipta saat seseorang berespon terhadap tuntutan dan tekanan dari luar maupun dari dalam diri. Stress sendiri merupakan sebuah bentuk resistensi terhadap tuntutan baik dari eksternal maupun internal. Event dari luar dan dalam diri bukanlah penyebab dari stress, namun persepsi seseorang terhadap event tersebutlah yang menyebabkan stress. Event yang sama akan dipersepsikan berbeda oleh orang yang berbeda, dipengaruhi oleh nilai-nilai dan latar belakang mereka yang berbeda-beda. Stress sendiri bukanlah hal yang perlu ditakuti karena setiap manusia pasti mengalami stress, bahkan stress dalam level tertentu diperlukan untuk meningkatkan performa kerja agar berada dalam level optimal. Level stress yang tepat dapat membantu kesuksesan interaksi personal dan lingkungan.
    
Saat pilot dalam sebuah misi penerbangan, level stress yang terlalu rendah sama berbahayanya dengan level stress yang terlalu tinggi. Level stress yang paling rendah terjadi ketika seseorang tertidur. Level stress yang sangat rendah dapat mengakibatkan kurangnya perhatian dan pengabaian terhadap tugas yang dikerjakan. Sedangkan level stress yang terlalu tinggi, terutama ketika berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama, dapat berakibat pada kelelahan, kesalahan serius dalam menilai sesuatu dan juga ketidakmampuan untuk berfungsi secara normal, baik secara fisik maupun mental.

The Canadian Mental Health Association menjelaskan mengenai respon stress, yaitu rangkaian event yang dialami oleh seseorang ketika menghadapi situasi yang membuat stress. Proses tersebut terdiri dari 3 tahap, yaitu Stage 1, Mobilizing Energy; Stage 2, Consuming Energy Stores; dan Stage 3, Draining Energy Stores. 

Dalam tahap 1, tubuh mempersepsikan stressor (penyebab stress), event atau pikiran yang memicu stress dan melepaskan adrenalin. Detak jantung dan pernapasan pun meningkat serta indra-indra menjadi semakin fokus dan sensitif. Pada tahap ini, seseorang lebih perseptif dan waspada. Event yang baik ataupun berbahaya sama-sama dapat memicu tahap pertama ini. Pada tahap ini performa seseorang sangat baik, waspada, fokus namun tetap relaks dan fleksible. Tahap ini hanya dapat berlangsung selama beberapa waktu saja, tergantung pada tingkat kebugaran seseorang. Kemampuan seseorang untuk mempertahankan tingkat fokusnya akan berkurang dan juga akan timbul kelelahan. Untuk kebanyakan orang, 2-3 jam merupakan batas yang masuk akal untuk mempertahankan tingkat fokus  dan fungsi dalam situasi yang menuntut dan lingkungan yang berisik seperti kokpit pesawat. 

Dalam sebuah penerbangan yang berlangsung selama 5-7 jam atau lebih lama, pilot tidak akan berfungsi dalam level yang sama pada akhir penerbangan seperti yang terjadi pada beberapa jam awal. Hal ini merupakan salah satu alasan mengapa fase descent, approach  dan landing dari sebuah penerbangan, menyumbang 61% dari jumlah accident, walaupun  fase-fase tersebut hanya mewakili 24% total waktu selama penerbangan. 

Dalam tahap kedua, tubuh mulai melepaskan gula dan lemak dari dalam tubuh untuk menyediakan lebih banyak energi yang dibutuhkan dalam situasi yang penuh dengan tekanan. Indra-indra akan cenderung memfokuskan pada sesuatu dan mulai mengecualikan informasi-informasi  yang dianggap tidak relevan terhadap situasi yang terjadi. Individu juga akan mulai mengalami peningkatan kecemasan, kehilangan memori dan penurunan kemampuan untuk menghadapi masalah-masalah yang lebih kompleks. Kemampuan seseorang untuk membuat keputusan juga menjadi terganggu. Secara umum, performa seseorang di tahap ini mulai menurun. 

Bila tahap kedua ini berlangsung terlalu lama atau tekanan yang ada terlalu besar, tingkat stres akan berpindah menuju tahap ketiga. Pada tahap ini, tubuh seseorang membutuhkan energi yang sangat besar yang tidak bisa disediakan oleh tubuh. Kemampuan seseorang untuk merespon terhadap lingkungan dengan pemikirannya, berkurang secara drastis. Selain itu, membuat penilaian atau menyelesaikan masalah yang kompleks merupakan hal yang sangat sulit dilakukan dalam tahap ini. Seseorang masih dapat mengerjakan tugas yang rutin dan tidak sulit, namun tidak mungkin dapat merespon secara efektif terhadap situasi yang sulit atau tidak terduga. 

Tingginya tingkat stress atau terlalu lama periode yang terpapar oleh stress, dapat membuat seseorang menjadi disfungsional dan hal tersebut sangat tidak aman bagi seorang pilot. Satu hal yang perlu diingat mengenai stress adalah bahwa stress bukan merupakan performance enhancer. Usaha untuk menyadari level stress personal dapat menjadi masalah yang kompleks. Ketika seseorang gagal menyadari level stresnya, maka akhirnya akan gagal pula mengambil langkah untuk mengontrol level stress tersebut. Level stress yang tinggi tersebut akan menurunkan kemampuan penilaian dan kemampuan problem solving dalam menghasilkan keputusan yang masuk akal dan cerdas mengenai sebuah situasi. 

Stress yang dialami masing-masing orang akan ditandai dengan perilaku yang khas pada setiap orang. Hal ini penting untuk diketahui dan diamati agar setiap orang mengenali pola-pola yang muncul pada dirinya. Beberapa simptom yang sering muncul saat stress meningkat adalah meningkatnya detak jantung dan pernapasan, ketegangan otot yang meningkat, berbicara terburu-buru, rasa tidak sabar, meningkatnya respon mekanis, lekas marah dan kecenderungan untuk fokus pada aspek-aspek kecil pada sebuah situasi. Ketika seseorang dapat mengenali respon stresnya dengan baik, hal tersebut akan sangat membantunya dalam menyadari dan mengontrol tingkat stresnya, sehingga dapat tetap berfungsi secara optimal dalam situasi yang sulit. Menarik napas dalam-dalam, istirahat sejenak dan memfokuskan diri pada prosedur standar dapat membantu seseorang mengontrol stresnya dalam situasi penuh tekanan. 

Pengetahuan tanpa disiplin atau kewaspadaan tanpa sikap yang tepat, tidak akan dapat membawa seseorang menuju tujuannya. Kombinasi dari keempat elemen tersebutlah yang memungkinkan seseorang untuk meminimalisasi dan mengelola risiko. Stress sendiri merupakan suatu hal yang mempengaruhi setiap orang. Stress dapat menjadi teman atau musuh    seseorang, tergantung pada kemampuan seseorang  untuk menyadari dan secara efektif merespon pada level stress personal. Seperti saat temperatur pesawat di monitor, tekanan gas dan juga pengukuran bahan bakar, maka level stress pada pilot juga harus masuk dalam elemen yang harus dimonitor demi tercapainya penerbangan yang aman.


Referensi:
Transport Canada, TP12863 (E), Human Factors for Aviation -- Basic Handbook, pg 107.



*one of my article back then, when im in internship*

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

0 comments: