Senin, 08 Oktober 2012 | By: winda maharani

Netralitas itu semu

Ya, saya berpendapat bahwa netralitas itu semu. Netralitas ato ketidakberpihakan pada satu posisi atau sudut pandang tertentu, menurut saya adalah hal yang semu. Ketika kamu sudah menentukan bahwa kamu adalah pihak yang netral ato tidak berpihak pada posisi manapun, sesungguhnya hal itu sudah menentukan posisi kamu atau keberpihakanmu pada satu titik.

Saat seseorang ditanyakan pendapatnya mengenai mana yang merupakan sudut pandang yang benar, apakah A atau B, dan kemudian ia memberikan jawaban yang ia anggap sebagai anggapan atau jawaban yang paling diplomatis atau netral atau objektif. Tapi sesungguhnya ketika ia memilih untuk menjawab hal itu, dia memilih untuk berada pada suatu titik atau posisi tertentu. Ya , katakanlah itu adalah posisi “netral”, kemudian muncul pertanyaan selanjutnya. Apa itu netral? Apakah netral itu adalah sudut pandang lain yang kedudukannya kemudian setara dengan sudut pandang A atau sudut pandang B? Lalu mengapa ia tidak dengan gamblang berkata bahwa ‘menurut saya sudut pandang C lah yang paling benar’?

Jangan lupa bahwa hakikatnya manusia adalah makhluk yang subjektif dan tidak akan pernah bisa terlepas pada subjektivitas tersebut. Hakikat dari netralitas dan objektifitas sesungguhnya sangat sulit dicapai oleh manusia, namun bukanlah hal yang tidak mungkin. Menjadi makhluk yang subjektif bukanlah hal yang kemudian dapat menghambat objektivitas atau netralitas seseorang dalam menganalisis sebuah permasalahan. Dengan menyadari dan mengenal seluruh subjektivitas dalam dirinya, individu akan lebih mampu melepaskan ‘subjektivitas’ tersebut untuk meraih objektivitas. Individu malahan mungkin dapat menerapkan prinsip-prinsip dalam kesubjektivitasannya untuk dapat lebih kritis menganalisis suatu isu dalam masyarakat.
Jadi pada dasarnya, netralitas dan objektivitas adalah hal yang semu, namun hal tersebut bukanlah menjadi suatu hambatan dan gangguan untuk bersikap dalam masyarakat. Walaupun demikian, pada akhirnya manusia harus selalu memilih dimana posisi ia berdiri dan mengetahui implikasi dari posisi yang dipilihnya terhadap semua posisi yang berada di lingkungannya, baik yang setara, di atas atau pun di bawah.

*sok filosofis*

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

0 comments: